Ngomongin film dan rasa sakit

Kemarin pagi usai bersepeda santai dengan seorang teman, karena merasa butuh inspirasi saya membuka Viu, saya terpikir sebuah film rom-com yang dulu pernah muncul di kolom rekomendasi.

On-Your-Wedding-Day
Credit : Soompi.com

On Your Wedding Day  judulnya. Dari judulnya saja terdengar sentimentil ya? Dari awal saya menduga film ini tidak happy ending. Meski begitu saya tetap menontonnya. Film yang tidak ber-happy ending lebih terasa nyata buat saya. Film ini tentang cinta pertama yang ditemui semasa SMA. Jika kamu pernah menonton film You are the Apple of My Eye ya kurang lebih menceritakan hal yang sama. Tentang seseorang yang tumbuh berkat cinta pertamanya meskipun mereka tidak berakhir bersama. Continue reading “Ngomongin film dan rasa sakit”

Corona dan re-activate kegiatan yang pernah hilang

IMG_20200430_110353
Credit : @moongirry- Daripada pakai foto saya mending pakai foto Tzuyu kkk

2020 tahun yang sedih ya? Sepertinya resolusi saya untuk tidak banyak berekspektasi disetujui semesta hahaha. Kampretlah.

Perusahaan tempat saya bekerja telah mengeluarkan edaran bagi seluruh karyawannya untuk tidak pulang kampung mengikuti anjuran pemerintah. Dramatis sekali kondisi ini. Namun karena keputusan ini wajib, jika melanggar dan ketahuan kami dipaksa mengundurkan diri. Terkesan kejam tapi menurut saya ini win-win solution, karena pada dasarnya masyarakat Indonesia kan bandel-bandel. Teman saya yang telah memesan tiket pesawat dengan terpaksa harus dibatalkan, dan banyak lagi karyawan yang harus menahan diri untuk tidak bertemu keluarga.

Saya belum bertemu keluarga selama hampir dua bulan, bahkan saya tidak bisa menghadiri pernikahan teman dekat saya, walaupun sebenarnya mereka juga tidak bisa mengundang banyak tamu. Rencana camping dan naik gunung batal, malah sekarang banyak gunung yang sedang aktif. Benar-benar tahun yang hebat. Continue reading “Corona dan re-activate kegiatan yang pernah hilang”

Mengenali fase perasaan manusia bersama Pamungkas

pam
credit : youtube (Break It- Live session)

Sepertinya tingkat adiksi saya pada lagu-lagu Pamungkas semakin hari semakin menjadi-jadi. Hingga mencuci bajupun diiringi lagu Pamungkas. Rasanya saya ingin lagu-lagu Pamungkas menjadi lagu latar kegiatan saya sehari-hari. Pernah mengalaminya? Saya sering mengalaminya jika sedang suka pada lagu tertentu. Paling lama mungkin dalam hitungan bulan.

Saya juga sudah menamatkan beberapa video wawancara Pam di Youtube, dan dari wawancaranya saya tahu bahwa di balik pembawaannya yang chill dia adalah seseorang yang melankolis dan deep thinker. Jenis sifat yang membuat saya penasaran, tidak bisa tidak tertarik. Proses mengenal seperti ini selalu seru ya hahaha. Meskipun hanya perkenalan satu arah. Continue reading “Mengenali fase perasaan manusia bersama Pamungkas”

Hai

Ada yang ragu untuk pulang. Ada yang pulang untuk ragu. Tiap tulisan berjejak, tiap jejak dituliskan. Ini bukan permintaan maaf, karena semua maaf sudah jadi daging. Ini sapaan lama yang harusnya lebih mula dari awalnya. Aku tidak ingin menanyakan kabarmu karena kita sama, hidup di rasa hujan dan kemarau. Aku mau pamit, mau jual maaf pada penjual daging di kota. Aku tidak lapar, tapi jiwaku gusar. Tidak pula haus, tapi hatiku hangus.

-tsana

Empathy gap : Saat nolong orang bisa pakai telinga

Seringkali kita kesulitan memprediksi secara obyektif apa yang akan kita rasakan dimasa depan, bahkan cenderung tidak peduli dengan apa yang akan kita rasakan nanti hanya karena kita sedang merasa ‘senang’ saat ini.

Saat kita merasa ‘senang’, kita menganggap orang yang sedih itu berlebihan. “Kok gitu aja sedih sih”. Padahal respon kita tidak lebih baik dari orang tersebut ketika menghadapi kesedihan yang sama.

Seiring dengan banyaknya hal yang kita alami, kita bisa melihat lebih jauh tentang apa kiranya yang akan kita rasakan dan jadi lebih peduli dengan apa yang orang lain alami. Empathy gap akan menyempit saat orang pernah merasakan pengalaman serupa yang juga dialami oleh orang lain atau setidaknya mau mengerti masalah yang dialami orang lain. Tapi secara umum kita masih mengelompokkan empathy atas dasar kesamaan pengalaman, prinsip hidup, sudut pandang hingga ras, agama dan lain-lain. Continue reading “Empathy gap : Saat nolong orang bisa pakai telinga”

Pertemuan perdana dengan Frau

20191220_122019
Sumber : Dokumentasi penulis – Akhirnya bertemu dengan mbak Lani :’)

Rasa-rasanya sampai hari ini saya tidak percaya bisa melihat penampilan Frau secara langsung. Karena segalanya terjadi tanpa rencana. Bisa dikatakan kebetulan atau buat saya lebih ke bentuk keajaiban. Frau adalah salah satu penemuan berharga dalam hidup saya. Video penampilan Frau favorit saya adalah dari Berandasvara. Dari video itu saya suka gemas sendiri saat melihat obrolan kecil Frau sebelum menyanyi.. Rasa kagum yang benar-benar kagum. Entah bagaimana mendeskripsikannya.

Continue reading “Pertemuan perdana dengan Frau”

Patjarmerah dan pentas ajaib yang terlewatkan

IMG-20191210-WA0016
Credit : @patjarmerah_id – Can you spot me? hehe saya di baris kedua lhoh
WhatsApp Image 2020-01-20 at 21.53.53
Credit : @patjarmerah_id

Entah sejak kapan saya menyukai buku. Padahal dulu jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya adalah: “saya ingin jadi pelukis”. Saya memang dekat dengan bacaan, tapi tidak sadar ternyata sesuka itu saya dengan bacaan.

Jadi, saat Patjarmerah hadir di Semarang, tepatnya di Kota Lama, tanggal 29 November sampai 8 Desember 2019. Saya bertekad hadir meskipun hanya satu hari. Bagi yang belum tahu apa itu Patjarmerah, ia adalah festival kecil literasi dan pasar buku keliling nusantara. Sesi lokakaryanya cukup padat dan banyak pengisi acara yang menarik. Festival kali ini Patjarmerah berkesempatan menghadirkan Monica Halim, Dandhy Laksono, Saut Situmorang, Ivan Lanin, penulis-penulis milenial seperti Genta Kiswara, Rintik sedu dan lain-lain bahkan psikiater dr. Jiemi Ardian juga Papermoon puppet. Continue reading “Patjarmerah dan pentas ajaib yang terlewatkan”