dari (t)sana, membiarkan rasa jadi dirinya

Tsana yang upload sendiri editan ini di Twitter.

Hai. Setelah sekian abad membiarkan uneg-uneg saya bersembunyi dibalik kesibukan dan kemalasan, akhirnya kali ini ia mau menunjukkan batang hidungnya. Mengendap-endap masuk ke pikiran dan mulai menampakkan diri.

Menulis memang paling syahdu kalau sedang jatuh cinta atau patah hati, ibarat mereka adalah warna merah dan biru, setiap gradasi diantaranya bisa dideskripsikan dengan baik.

Jadi kalau sedang tidak merasakan apa-apa, keinginan untuk menulisnya berkurang. Makanya saya coba menelaah mencari tahu apa yang akhir-akhir ini saya senangi, agar tetap menulis.

Continue reading “dari (t)sana, membiarkan rasa jadi dirinya”

Love is when you learn something

“Coba kita bisa saling membahagiakan..coba kalau ini, coba kalau itu…
Kalau tubuh manusia cuma diisi sama ego doang hal itu akan jadi bumerang buat semua orang. Kalau memiliki dan dimiliki harus jadi perjalanan pulang pergi. Kalau nggak bisa memiliki balik kita nggak akan pulang atau kalau nggak bisa dimiliki kita nggak bisa pergi. Hidup kayaknya sempit banget kalau cuma tentang itu”

Continue reading “Love is when you learn something”

Mengaku kalah

Sungguh awal tahun yang penuh kejutan, belum juga berjalan satu bulan, kita sudah banyak mendapat berbagai kabar buruk. Selain banyak berdoa, hal lain yang bisa kita lakukan adalah tetap sehat agar bisa membantu mereka yang kesulitan.

Meskipun tahun telah berganti, sampai saat ini tidak banyak hal yang berubah dari hidup saya, masih belum bisa kemana-mana, masih sendiri dan masih sering overthinking. Dan saya baru sadar kalau postingan saya soal training itu amat memalukan. Cringe. Kenapa pula saya merasa perlu menulis itu? Tapi karena tulisan itu saya menyadari betapa insecurenya saya, bahkan untuk menjadi rapuhpun saya merasa harus memilih jenis rapuh seperti apa yang pantas ditunjukkan. Biar sajalah, sekarang saya memilih untuk tidak menghapusnya. Tulisan itu refleksi suasana hati saya saat itu, dan saya ingin mempelajarinya.

Continue reading “Mengaku kalah”

Kejedot training

Sumber : Dokumentasi pribadi. Foto yang saya ambil bukan merupakan intellectual property.

Mulai bulan ini saya diajukan oleh bos saya untuk mengikuti training yang diadakan oleh pihak management. Seharusnya ada tiga orang yang mengikuti training ini, tapi karena pandemi akhirnya hanya diambil satu orang per departement. Apesnya saya yang terpilih mengikuti. Kenapa apes? buat saya ini bukan hanya pelatihan dan kesempatan tapi juga persaingan. Sedangkan saya bukan tipe orang yang ambisius atau punya daya saing tinggi dalam hal meraih posisi tertentu. When it comes to technical skills I can compete with people, but if it about position, I have no interest at all.

Continue reading “Kejedot training”

Review drama Start-up : Drama yang membuatmu ingin bermimpi lagi.

Setelah banyak menonton drama bergenre thriller dan criminal, akhirnya ada drama fresh yang membuat saya bernostalgia.

Judulnya Start-up, drama baru TVN yang juga tayang di Netflix. Kenapa bernostalgia? Karena penulis drama ini adalah Park Hye Ryun, script-writer yang juga menulis drama fenomenal Dream High. Setelah 9 tahun akhirnya dia menulis drama dengan rasa yang sama : tentang mimpi. Bedanya dulu diperankan oleh anak-anak SMA sekarang diperankan oleh pemuda berusia 20-an. Selain itu Suzy lagi-lagi menjadi pemain utama di drama yang ditulisnya.

Credit : AsianWiki
Continue reading “Review drama Start-up : Drama yang membuatmu ingin bermimpi lagi.”