Waktu untuk tidak menikah

Tiap kali ada kabar menikah dari teman, gumaman saya masih sama “kok mereka bisa yakin ya”. Bukan maksud meragukan keputusan mereka, tapi lebih ke takjub. Mungkin karena belum ada bayangan baik di kepala saya soal menikah. Saya justru tak ingin cepat-cepat menikah karena saya takut kehilangan kebebasan ya selain memang syarat utamanya belum ada atau karena aslinya saya yang belum mau terikat(?)

Continue reading “Waktu untuk tidak menikah”

Suvenir perjalanan

“Bersenang-senanglah, karna hari ini yang kan kita rindukan. Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah, karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua.

Lirik Sebuah kisah klasik oleh Sheila on 7

Saya sering mendengar lagu ini dari kecil, tapi baru benar-benar ‘ngeh’ soal isi lagunya kemarin. Parah ya?

Kebetulan pekerjaan saya kemarin agak longgar jadi saya bisa berkonsentrasi pada lagunya yang saya sadari ternyata memiliki arti yang amat dalam. Ya, di ruangan saya sekarang disediakan speaker jadi saya bisa kerja sambil mendengarkan lagu. Seperti yang pernah saya katakan di salah satu postingan, bahwa saya selalu merasa kekurangan waktu. Jadi semakin saya dengar lagu ini, semakin saya tak ingin menua. Pokoknya saya ingin selalu muda, maksa ya :’)

Muda. Masa ini sedang saya nikmati betul-betul karena terasa amat menyenangkan. Setidaknya akhir-akhir ini, ketika mulai ada orang yang bertanya kapan menikah. Rasanya itu peringatan bahwa masa muda saya semakin terbatas. Karenanya, saya ingin merasakan banyak pengalaman. Kadang saking ingin merasakan suatu pengalaman, saya sampai harus menerobos sebuah keadaan yang sudah saya tahu tidak akan berakhir baik, tapi for the sake of experience malah sengaja saya lewati.

Continue reading “Suvenir perjalanan”

dari (t)sana, membiarkan rasa jadi dirinya

Tsana yang upload sendiri editan ini di Twitter.

Hai. Setelah sekian abad membiarkan uneg-uneg saya bersembunyi dibalik kesibukan dan kemalasan, akhirnya kali ini ia mau menunjukkan batang hidungnya. Mengendap-endap masuk ke pikiran dan mulai menampakkan diri.

Menulis memang paling syahdu kalau sedang jatuh cinta atau patah hati, ibarat mereka adalah warna merah dan biru, setiap gradasi diantaranya bisa dideskripsikan dengan baik.

Jadi kalau sedang tidak merasakan apa-apa, keinginan untuk menulisnya berkurang. Makanya saya coba menelaah mencari tahu apa yang akhir-akhir ini saya senangi, agar tetap menulis.

Continue reading “dari (t)sana, membiarkan rasa jadi dirinya”

Love is when you learn something

“Coba kita bisa saling membahagiakan..coba kalau ini, coba kalau itu…
Kalau tubuh manusia cuma diisi sama ego doang hal itu akan jadi bumerang buat semua orang. Kalau memiliki dan dimiliki harus jadi perjalanan pulang pergi. Kalau nggak bisa memiliki balik kita nggak akan pulang atau kalau nggak bisa dimiliki kita nggak bisa pergi. Hidup kayaknya sempit banget kalau cuma tentang itu”

Continue reading “Love is when you learn something”

Mengaku kalah

Sungguh awal tahun yang penuh kejutan, belum juga berjalan satu bulan, kita sudah banyak mendapat berbagai kabar buruk. Selain banyak berdoa, hal lain yang bisa kita lakukan adalah tetap sehat agar bisa membantu mereka yang kesulitan.

Meskipun tahun telah berganti, sampai saat ini tidak banyak hal yang berubah dari hidup saya, masih belum bisa kemana-mana, masih sendiri dan masih sering overthinking. Dan saya baru sadar kalau postingan saya soal training itu amat memalukan. Cringe. Kenapa pula saya merasa perlu menulis itu? Tapi karena tulisan itu saya menyadari betapa insecurenya saya, bahkan untuk menjadi rapuhpun saya merasa harus memilih jenis rapuh seperti apa yang pantas ditunjukkan. Biar sajalah, sekarang saya memilih untuk tidak menghapusnya. Tulisan itu refleksi suasana hati saya saat itu, dan saya ingin mempelajarinya.

Continue reading “Mengaku kalah”

Kejedot training

Sumber : Dokumentasi pribadi. Foto yang saya ambil bukan merupakan intellectual property.

Mulai bulan ini saya diajukan oleh bos saya untuk mengikuti training yang diadakan oleh pihak management. Seharusnya ada tiga orang yang mengikuti training ini, tapi karena pandemi akhirnya hanya diambil satu orang per departement. Apesnya saya yang terpilih mengikuti. Kenapa apes? buat saya ini bukan hanya pelatihan dan kesempatan tapi juga persaingan. Sedangkan saya bukan tipe orang yang ambisius atau punya daya saing tinggi dalam hal meraih posisi tertentu. When it comes to technical skills I can compete with people, but if it about position, I have no interest at all.

Continue reading “Kejedot training”