Kejedot training

Sumber : Dokumentasi pribadi. Foto yang saya ambil bukan merupakan intellectual property.

Mulai bulan ini saya diajukan oleh bos saya untuk mengikuti training yang diadakan oleh pihak management. Seharusnya ada tiga orang yang mengikuti training ini, tapi karena pandemi akhirnya hanya diambil satu orang per departement. Apesnya saya yang terpilih mengikuti. Kenapa apes? buat saya ini bukan hanya pelatihan dan kesempatan tapi juga persaingan. Sedangkan saya bukan tipe orang yang ambisius atau punya daya saing tinggi dalam hal meraih posisi tertentu. When it comes to technical skills I can compete with people, but if it about position, I have no interest at all.

Tapi, karena ini kesempatan bagus untuk belajar, jadi saya bersedia ikut, dan karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini, saya merasa harus melakukan yang terbaik. Di sisi lain, saya takut jika setelah saya berusaha ternyata saya tidak mampu. Meskipun sebenarnya saya tidak berambisi, tapi saya tidak mau kalah. Ribet ya. Mengundurkan diri malah jadi ide bodoh karena menunjukkan betapa penakutnya saya. Saya hanya berdoa semoga saya tidak lolos tapi dengan cara yang tidak mempermalukan diri sendiri.

Lucunya itu terjadi! hahaha. Saya diberi sakit, tidak berat, vertigo saya kumat dan akhirnya saya tidak mengikuti dua materi training selama dua hari berturut-turut. Jujur saya lega. Sebenarnya bisa jadi saya tidak lolos karena tidak mampu, tapi karena sakit bos saya akan berpikir saya tidak lolos dengan sebab sakit. Kepercayaan yang diberikan pada saya jatuh dengan pendaratan yang aman ๐Ÿ˜€

Itulah salah satu kedalaman psikologis manusia, sering tampak konyol tapi juga normal. Alasannya selalu berlapis. Karena sakit, sekarang saya bisa mengikuti training dengan nyaman tanpa ada beban kepercayaan dan harga diri. Lagipula, saya merasa pertarungan ini bukan buat saya. Memperoleh ilmunya saja sudah lebih dari cukup.

Bicara soal ilmu, ada satu materi training yang dibawakan oleh manager baru department saya, yang membuat saya sadar, di luar sana banyak sekali manusia hebat. Manager saya ini ekspatriat dari Filipina yang sepertinya akan menetap di Indonesia karena sudah menikah dengan orang Indonesia.

Selasa lalu dia membawakan materi tentang manufacture costing, selama empat jam saja dan saya pusing karenanya. Saya terpukau dengan pengetahuannya yang sangat detil dan realistis tapi mendapat pengetahuan sebanyak itu dalam waktu empat jam membuat otak saya overload. Bagaimana tidak, saya pulang kerja, capek dan langsung dihadapkan dengan rumus-rumus yang sudah bertahun-tahun tidak saya temui. Sudah begitu materi dibawakan dengan dengan bahasa Inggris pula. Tapi terlepas dari seberapa jauh otak saya memahaminya, saya berterimakasih sudah diberi kesempatan untuk mempelajarinya.

Ada pelajaran mentalitas yang saya terima saat manager saya bercerita tentang kesalahannya. Tahu kan saat bekerja kamu tidak akan bisa menghindar dari kesalahan. Jadi, ceritanya dia pernah salah input konversi ukuran saat menghitung costing, dan dari kesalahan itu, jika dihitung perusahaan rugi 200 juta rupiah. Katanya โ€œJika waktu itu saya dipecat, saya malah berterimakasih karena saya langsung lepas dari masalah, tapi karena saya mencoba bertanggung jawab, saya bilang, saya bisa mengganti kerugian perusahaan sampai lima kali lipat, kalau saya diberi kesempatan bertahanโ€

Barangkali itu sebagai salah satu latar belakang dia membuat kebijakan untuk tidak memecat karyawan yang melakukan kesalahan, melainkan diajak meeting dan diberi tahu dari kesalahannya itu, berapa kerugian yang ditanggung perusahaan dan apa yang bisa dia lakukan untuk meningkatkan kinerjanya.

Dia sangat keren tapi juga menakutkan. Dia bukan tipikal petinggi yang banyak teori, sebaliknya karena dia berasal dari bawah, dia sering bilang tidak suka dengan petinggi-petinggi dari top management karena hanya banyak bicara, tanpa tau kondisi lapangan sebenarnya. Dari dia saya semakin yakin, menjadi pemimpin yang baik itu tidak mudah.

Pikiran saya jadi mengawang, proses manufacturing satu perusahaan saja bisa serumit ini, apalagi sebuah negara. Seseorang yang cerdas dengan mentalitas bertanggungjawab seperti dia saja hanya menjadi manager, kenapa negara bisa memperbolehkan seseorang tidak bertanggung jawab mengurus rakyatnya? Ironis.

Sebenarnya salah satu penyebab kenapa saya merasa agak tertekan oleh training ini adalah pesertanya. Karena kebanyakan dari mereka adalah supervisor bahkan salah satunya adalah sub. Dept. head. Saya agak oleng dong ya, saya kan staff biasa, tapi ditraining bersama para supervisor dan sub. Dept head. Kepercayaan diri saya tidak sebesar itu. Tadinya sih begitu, kalau sekarang sudah tidak peduli, karena saya sudah keluar dari medan persaingan ๐Ÿ˜€ , tidak begitu peduli juga dengan nilai tes dan hanya fokus belajar saja ๐Ÿ™‚

Ada pengalaman freak lain yang saya alami selama training disebabkan ketimpangan jabatan tersebut, setidaknya saya merasa seperti itu. Jadi setelah selesai training, peserta akan langsung pulang kan, seperti biasa saya berjalan ke parkiran sepeda ya karena saya pulang pergi kerja naik sepeda, eh ternyata salah satu trainee ada yang naik mobil. Mana parkiran mobil dan sepeda ada di halaman depan semua. Bisa bayangkan situasi ini? Oh I feel special and sucks at the same time. Special karena saya bisa satu forum dengannya. Sucks karena meskipun saya tidak pernah memaksakan diri untuk terlihat hebat dimata orang, tapi kalau sejelas ini, terasa sekali ketimpangannya. Maka, untuk kebaikan mental saya, esoknya selesai training saya menghambur ke toilet untuk menghindari pertemuan yang amat meresahkan itu. Saya tidak mau semakin terintimidasi oleh kondisi finansialnya.

Sebisa mungkin saya selalu bicara dengan diri saya untuk memandang sesuatu secara obyektif, besar kecil kadar obyektifitasnya bisa diaturlah ya, seperti kasus saya di atas, kalau berat untuk ditanggung lebih baik dihindari saja hehehe.

Apapun bentuknya, entah seperti training atau saya yang kabur karena tidak mau berpapasan dengan trainee yang punya mobil di parkiran, saya cuma ingin bilang bahwa mundur tidak selamanya kalah. Kita yang paling tahu kita sebenarnya mampu atau tidak, apakah hal itu memang untuk kita atau bukan. Semua kesempatan yang datang tidak harus didobrak. ย Jadi, kalau merasa sudah kejedot, daripada terluka karena memaksakan diri lebih baik putar balik cari jalan lain yang mampu kita lalui, yang mampu kita hadapi ๐Ÿ™‚

Author: Inggrity

Human. Breath

3 thoughts on “Kejedot training”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s