Suvenir perjalanan

“Bersenang-senanglah, karna hari ini yang kan kita rindukan. Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan. Bersenang-senanglah, karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua.

Lirik Sebuah kisah klasik oleh Sheila on 7

Saya sering mendengar lagu ini dari kecil, tapi baru benar-benar ‘ngeh’ soal isi lagunya kemarin. Parah ya?

Kebetulan pekerjaan saya kemarin agak longgar jadi saya bisa berkonsentrasi pada lagunya yang saya sadari ternyata memiliki arti yang amat dalam. Ya, di ruangan saya sekarang disediakan speaker jadi saya bisa kerja sambil mendengarkan lagu. Seperti yang pernah saya katakan di salah satu postingan, bahwa saya selalu merasa kekurangan waktu. Jadi semakin saya dengar lagu ini, semakin saya tak ingin menua. Pokoknya saya ingin selalu muda, maksa ya :’)

Muda. Masa ini sedang saya nikmati betul-betul karena terasa amat menyenangkan. Setidaknya akhir-akhir ini, ketika mulai ada orang yang bertanya kapan menikah. Rasanya itu peringatan bahwa masa muda saya semakin terbatas. Karenanya, saya ingin merasakan banyak pengalaman. Kadang saking ingin merasakan suatu pengalaman, saya sampai harus menerobos sebuah keadaan yang sudah saya tahu tidak akan berakhir baik, tapi for the sake of experience malah sengaja saya lewati.

Anyway, mumpung feelnya sedang membara. Saya ingin menjadikan postingan ini tempat menyimpan suvenir salah satu episode perjalanan saya.

Sama seperti kebanyakan orang, dulu saat film 5 cm tayang, saya terpukau dengan film itu. Bagi beberapa orang ini agak alay, karena gelombang dari film ini dalam dunia pendakian amat terasa katanya baik secara negatif maupun positif, tapi ya gimana film itu memang memukau bagi saya yang saat itu belum tau apa-apa. Jadi, saya diam-diam membuat keinginan-keinginan kecil yang terinspirasi dari film itu.

Pertama, saya ingin naik gunung bersama teman-teman, sama seperti ke-enam kawan itu. Keinginan ini terwujud lebih dahulu karena dorongan patah hati dan rasa lelah. Entah kenapa saya selalu bangga menceritakan bagaimana pada akhirnya saya bisa naik gunung. Sejauh ini saya sudah tujuh kali naik gunung, tidak banyak memang, apalagi jika dibandingkan dengan Fiersa atau Dzawin, tapi bagi saya ini cukup membanggakan. Saya juga sudah beberapa kali menuliskannya dalam catatan bahwa naik gunung mengubah cara saya berkomunikasi secara signifikan, juga menambah teman. Sebenarnya bukan hanya itu tapi karena sudah berkali-kali saya sebut di beberapa postingan jadi saya rasa tidak perlu menjelaskan lagi.

Kedua, naik kereta dan berlibur bersama kawan-kawan, ini juga terinspirasi dari film itu hahaha. Tepat seperti yang semua orang duga, adegan saat mereka bercanda di dalam kereta membuat hati saya tergerak. Suasananya hangat dan sederhana. Saya sangat ingin merasakan pengalaman itu. Meskipun terlihat sederhana, keinginan ini buat saya agak sulit terealisasikan, ya tau sendiri bahwa tidak semua hal yang kamu inginkan terjadi saat itu juga, saya perlu beberapa tahun sampai semua syaratnya terpenuhi. Karena saya harus punya kawan untuk di ajak liburan, punya tujuan liburan, kesempatan yang pas dan punya ongkos tentunya. Lucunya semua itu terwujud satu-persatu. Maka jika mengingat betapa kupernya saya dulu, dan melihat saya sekarang berada di titik ini rasanya bikin bangga juga.

Ketiga, saya sangat ingin merasakan mempunyai geng seperti mereka, dan harus ada anak laki-lakinya. Spesifik bukan? ini karena saya dulu cukup relijius dan saya merasa keinginan saya yang satu ini kontradiktif dengan ajaran agama. Dalam Islam pergaulan dengan lawan jenis saja dibatasi bagaimana bisa saya malah ingin berkawan dengan mereka? Saya dulu pernah disebut sebagai orang yang konservatif oleh seseorang, dan saya rasa dia benar. Tapi perlahan saya longgarkan tali peraturan di diri saya tanpa melepasnya untuk memasukkan pengalaman-pengalaman baru dalam hidup. Dan akhirnya saya bisa bertemu dengan mereka.

Orang asing dengan latar belakang, pemikiran, kepribadian dan usia yang berbeda-beda tapi ajaibnya kita bisa menyatu dengan cukup baik. Makan bersama kapanpun dan dimanapun mudah dikumpulkan, mengobrol hal-hal yang tidak jelas tentang persoalan kehidupan atau percintaan sampai larut malam. Menertawakan kegagalan dan rasa insecure. Berdebat dan saling melempar barang karena jengkel. Merajuk tak mau berbicara seminggu jika ada kesalahpahaman dan orang yang bersangkutan tidak peka. Kentut, sendawa, bau badan, wajah dan ekspresi terjelek yang kita punya semua terungkap. Sampai ada titik dimana saya merasa mereka bukan hanya kawan namun seperti keluarga. Dan yang terbaik dari semuanya adalah saya masih punya privasi, kami tau satu sama lain by nature tanpa memaksakan menyerahkan seluruh privasi untuk dianggap istimewa.

Tentu saya juga paham bahwa kehangatan ini akan bertahan lama, karena satu-persatu dari mereka akan melangkah ke fase hidup selanjutnya. Untuk itulah saat ini saya ingin bersenang-senang dengan benar, saya tak akan terburu-buru tapi juga tidak mau ceroboh.

Jadi meskipun agak terlambat, saya bersyukur bisa merasakan jenis persahabatan ala-ala novel atau film-film itu. Mungkin tidak sedramatis yang ada di film atau buku sih, tapi bisalah dibandingkan. Karena saya tahu betul tidak semua orang yang tampil di foto, yang kamu sebut kawan di caption itu benar-benar kawan yang peduli.

Saya memang belum meraih banyak hal, dan bagi orang lain hal-hal di atas barangkali hanya pengalaman remeh. Sayapun yakin banyak orang di luar sana yang punya lebih banyak pengalaman, tapi buat saya ini berharga. Orang mungkin berpikir saya hanya membuang waktu untuk bekerja saja, beberapa orang bilang kenapa tidak coba berpindah-pindah untuk menambah pengalaman bekerja. Tapi kalau diperhatikan lagi, cukup banyak hal yang saya dapatkan di sini. Kadang yang namanya rezeki bukan hanya soal materi, kawan yang baik juga merupakan rezeki.

Kamu tau impian itu tidak harus megah, naik kereta juga bisa disebut mimpi bagi yang belum pernah, beli laptop baru juga bisa disebut mimpi bagi yang belum punya. Esensinya terletak pada apapun impiannya, sekecil apapun itu, apabila saat hal tersebut terwujud kita merasa bahagia, maka itu sudah lebih dari cukup. Terlebih saat pandemi seperti sekarang, yang tidak bisa nongkrong maupun bepergian, mencoba memperhatikan hal-hal kecil seperti ini lalu mensyukurinya, rasanya sudah melegakan dan menyembuhkan.

Ada sebuah statement Herjunot Ali di channel milik Deny Sumargo yang saya ingat, kurang lebihnya begini;

When you dream, your dream actually kept following you everyday, jadi mimpi lo itu terus nge-shape subconscious lo, yang secara nggak sadar bikin lo nggak mikir, tapi secara nggak sadar juga lo tulis besok mau ngapain sampai akhirnya lo bisa jadi seperti sekarang ini, jadi nggak ada such thing like coincidence

Barangkali itu benar, kalau saya pikir-pikir banyak hal yang saya inginkan menjadi kenyataan. Menjadi naif dan idealis di usia muda kadang bisa jadi berkah, meskipun suka bikin orang di sekitar jadi gemas, sebab kadang terkesan memaksakan diri. Tapi saya selalu bicara pada diri sendiri, bahwa momen ini tidak akan terjadi dua kali makanya saya harus memanfaatkan yang tersisa dari kenaifan dan idealisme itu untuk berjalan sedikit lagi, sebelum tiba saat saya hanya berhadapan dengan realita dan mulai skeptis akan banyak hal termasuk mimpi sendiri.

Jika saya tak menonton film itu dan tak menginginkannya sedikitpun, jika saya tak menyimpan dengan benar impian- impian kecil itu dalam pikiran dan tak berusaha mewujudkannya, mungkin saya masih orang yang sama seperti lima atau enam tahun yang lalu. 

Saya masih akan berjalan pelan sambil mengumpulkan lebih banyak suvenir perjalanan, untuk saya simpan dan membaginya nanti di ujung jalan.

So, mari bersenang-senang karena hari ini akan kita rindukan 🙂

Author: Inggrity

Human. Breath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s